Wasting Syndrome

author

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika (CDC) mengenali “wasting syndrome” sebagai kondisi AIDS pada tahun 1987. Sindrom “wasting” ini didefinisikan sebagai penurunan berat badan setidaknya 10% beserta diare atau kelemahan dan demam kronis untuk setidaknya 30 hari. Dalam prakteknya, setiap penurunan berat badan tak terduga sebesar itu biasanya dianggap sebagai sindrom “wasting”.

Hubungan yang signifikan antara penurunan berat badan dan kematian, perkembangan penyakit lain, atau bahkan keduanya telah dibuktikan dalam berbagai penelitian prospektif dan retrospektif sebelum munculnya terapi antiretroviral (ART atau ARV) yang efektif. Beberapa laporan menunjukkan bahwa kejadian sindrom “wasting” telah menurun sejak pengenalan ARV yang efektif, tetapi data dari penelitian lain menunjukkan bahwa sindrom “wasting” tetap merupakan komplikasi yang signifikan, bahkan pada populasi dengan akses ARV yang efektif.

Penyebab Wasting Syndrome

Faktor-faktor yang telah dihipotesiskan, yang berkontribusi dalam sindrom “wasting”, termasuk perubahan metabolisme, anoreksia, gangguan malabsorptive, hipogonadisme, dan produksi sitokin yang berlebihan. Karena sindrom “wasting” dalam banyak kasus merupakan hasil dari kombinasi banyak faktor, proses diagnostik harus mengenali kemungkinan beberapa etiologi (penyebab atau asal penyakit dan faktor-faktor yang menghasilkan atau memengaruhi suatu penyakit atau gangguan tertentu).

Diare kronis dan malabsorpsi tetap menjadi temuan umum pada pasien terinfeksi HIV. Di mana pasien telah menjalani pengobatan ARV, diare yang berhubungan dengan patogen usus seperti microsporidia, Cryptosporidium, Giardia lamblia, cytomegalovirus (CMV), dan Mycobacterium avium mengalami penurunan, sedangkan pada beberapa kasus, diare terkait ARV juga meningkat.

Pengobatan Wasting Syndrome

Pengobatan infeksi sekunder dan komplikasi infeksi HIV lainnya merupakan faktor penting dalam manajemen “wasting”, sebagaimana dibuktikan oleh peningkatan berat badan dan massa sel tubuh pada pasien. Infeksi oportunistik yang mengganggu pasien untuk menelan (seperti kandidiasis, herpes, atau esophagitis CMV) membuat pasien sangat rentan untuk mengalami sindrom “wasting”. Selain infeksi sekunder, ulkus aphthous, diare kronis, atau malabsorpsi dari setiap etiologi; depresi; dan kontributor lain untuk anoreksia harus diobati.

Strategi-strategi nutrisi untuk mencegah atau memperbaiki kondisi tubuh pasien harus bekerja untuk mempertahankan atau meningkatkan asupan energi. Pasien dengan infeksi HIV dapat meningkatkan tingkat asupan protein selama periode peningkatan asupan makanan.

Karena orang yang terinfeksi HIV berisiko tinggi untuk infeksi yang ditularkan melalui makanan, keamanan makanan juga merupakan komponen penting dari peningkatan asupan nutrisi.

Latihan fisik (baik aerobik dan resistan) merupakan cara nonfarmakologis yang sangat baik untuk mempertahankan atau memulihkan tingkat kebugaran pada pasien dengan infeksi HIV. Dalam studi awal, pelatihan resistensi progresif dilaporkan mampu meningkatkan kekuatan dan berat badan bagian atas dan bawah pada individu yang pulih dari Pneumonia Pneumocystis akut.

Sumber:

Also Read

Tags

Leave a Comment